Ketika sebuah produk baru berbasis teknologi hadir di masyarakat, tidak semua orang merasa itu ditujukan untuk mereka. Bukan hanya soal fungsi atau manfaatnya, tapi juga soal persepsi harga dan kesan eksklusif yang melekat pada teknologi tersebut.
Hal ini membuat teknologi baru—meskipun potensial dan inovatif—sering kali tidak diterima secara merata oleh semua lapisan sosial.
Teknologi Disruptif dan Ambang Harga
Dalam beberapa riset yang dibahas di ScienceDirect, disebutkan bahwa produk teknologi baru atau disruptive technologies sering kali dipersepsikan sebagai barang mahal.
Salah satu konsep penting dari riset ini adalah price threshold atau ambang batas harga—yaitu seberapa mahal sebuah produk masih bisa dianggap wajar dan layak beli oleh konsumen.
Namun, persepsi ini tidak terbentuk begitu saja. Tekanan sosial (social pressure) punya peran besar dalam membentuk anggapan bahwa teknologi tertentu adalah barang mahal. Ketika masyarakat melihat bahwa teknologi hanya digunakan oleh kelompok tertentu saja (biasanya kelas atas), maka muncul anggapan bahwa produk itu memang bukan untuk “orang biasa”.
Kesan Eksklusif dan Jarak Sosial
Kalau suatu teknologi terlihat terlalu “canggih” atau eksklusif, hal ini bisa menciptakan jarak sosial.
Masyarakat kelas menengah ke bawah bisa merasa teknologi itu bukan milik mereka—bukan hanya karena harganya, tapi juga karena muncul perasaan “tidak cocok”.
Misalnya:
- Seseorang dari kalangan ekonomi menengah mungkin enggan menggunakan alat rumah pintar atau sistem parkir otomatis karena merasa itu identik dengan gaya hidup kelas atas.
- Dalam banyak kasus, identitas sosial menjadi alasan utama mengapa sebuah inovasi teknologi dihindari.
Teknologi bukan lagi soal fungsi, tapi menjadi bagian dari simbol status sosial. Orang bisa merasa bahwa menggunakan teknologi tertentu berarti “naik kelas”, dan jika tidak sesuai dengan latar belakang sosial mereka, maka mereka akan menghindar—secara sadar atau tidak sadar.
Kondisi di Masyarakat: Menghindari yang Terlihat Mewah
Fenomena ini bisa dilihat jelas di lapangan.
- Kawasan perumahan dengan barrier gate atau sistem akses digital sering dianggap mahal, bahkan sebelum orang mengetahui harga pastinya. Karena ada elemen teknologi, muncul asumsi otomatis bahwa kawasan itu bukan untuk semua orang.
- Restoran dengan robot pelayan atau pemesanan digital via tablet juga sering dipersepsikan mewah. Padahal, secara teknis biayanya tidak selalu mahal. Namun, persepsi masyarakat membuat teknologi itu terlihat eksklusif dan hanya menarik segmen tertentu saja.
Dalam kondisi seperti ini, celah antara teknologi dan inklusivitas sosial menjadi tantangan nyata. Alih-alih mempermudah hidup, teknologi justru bisa menciptakan pengkotakan sosial jika tidak dikomunikasikan dan dikemas dengan tepat.
Penutup
Teknologi yang baik seharusnya tidak menciptakan jarak, tapi justru menjembatani kebutuhan semua lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, penting bagi inovator, pelaku usaha, maupun pembuat kebijakan untuk menyadari bahwa penerimaan terhadap teknologi bukan hanya ditentukan oleh fitur dan harga, tapi juga oleh cara masyarakat memandang teknologi secara sosial dan psikologis.
Agar teknologi benar-benar bisa digunakan secara luas, perlu pendekatan yang lebih inklusif:
- Harga yang masuk akal
- Tampilan yang tidak terlalu eksklusif
- Strategi komunikasi yang membumi, agar orang tidak merasa “tidak pantas” menggunakannya
Dengan begitu, teknologi bisa hadir sebagai solusi bersama, bukan simbol jarak sosial.

Leave a Reply